Dosen Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Yang Layak Di Hormati Foto: Ketua Program Studi S2 Magister Hukum Universitas Semarang, Dr. Drs. Adv.H. Kukuh Sudarmanto A, BA, S.Sos., SH, MH, MM.,
Bratapos / Pendidikan

Dosen Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Yang Layak Di Hormati

Terbit : 25-Nov-2025, 17:54 WIB // Pewarta : Kacab Jateng, Editor : Kacab Jateng // Viewers : 163 Kali

Semarang, Jateng.Bratapos.com — Dalam refleksi Hari Guru dan Hari Dosen tahun 2025, Ketua Program Studi S2 Magister Hukum Universitas Semarang, Dr. Drs. Adv.H. Kukuh Sudarmanto A, BA, S.Sos., SH, MH, MM., menegaskan kembali betapa pentingnya keberadaan dosen dalam membentuk generasi bangsa. Ia menyebut dosen sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang di medan intelektual” yang kerap terlupakan.

“Dosen bekerja di balik tirai, tanpa tepuk tangan, tetapi dengan komitmen penuh untuk mencerdaskan bangsa,” ujarnya saat menyampaikan pandangannya mengenai peran pendidik tinggi.

Cahaya yang Mengusir Kebodohan

Kukuh mengingatkan bahwa penghormatan terhadap pendidik telah lama disuarakan melalui karya seni. Ia mencontohkan lagu “Umar Bakri” karya Iwan Fals serta Hymne Guru karya Sartono(1987) yang menegaskan posisi pendidik sebagai pelita. “Lirik ‘Engkaulah pelita dalam kegelapan’ menunjukkan bahwa guru dan dosen adalah cahaya kehidupan,” katanya.

Meski demikian, Kukuh menilai dosen kerap dipandang hanya sebagai “tenaga pendidik”, tanpa sentimen penghormatan yang melekat pada kata guru.

Regulasi yang Mengatur Peran Dosen

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa dosen merupakan pendidik profesional sekaligus pengembang ilmu pengetahuan dan peneliti. Namun, menurut Kukuh, realitas penghargaan terhadap dosen masih belum sejalan dengan aturan.

“Banyak dosen bekerja lebih karena panggilan jiwa daripada mengejar kemapanan finansial,” jelasnya.

Ia mengkritik ungkapan satir yang terkenal di kalangan akademisi: “Dosen kerjane sak dos, gajine sak sen,” sebagai gambaran nyata beratnya beban kerja dosen.

Tantangan Dosen di Era Generasi Z

Perubahan zaman menuntut dosen untuk terus beradaptasi. Generasi Z yang kritis, digital, dan dinamis memaksa dosen menjadi fasilitator, mentor, sekaligus inspirator.

“Dosen tidak bisa lagi hanya berceramah. Mereka harus menguasai teknologi dan memahami budaya mahasiswa masa kini,” tambah Kukuh.

Dalam konteks Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), dosen dituntut memerdekakan mahasiswa dengan membuka ruang belajar yang lebih luas, mulai dari magang hingga riset lapangan.

Tak Menutup Mata atas Kasus Negatif

Kukuh juga mengakui adanya kasus-kasus pelanggaran etik oleh oknum dosen, seperti diskriminasi nilai atau pelecehan. Namun ia mengingatkan agar kasus tersebut tidak mengaburkan dedikasi mayoritas dosen.

“Satu dua kasus tidak boleh menenggelamkan pengabdian ribuan dosen yang bekerja siang malam demi mahasiswa,” tegasnya.

Penjaga Tri Dharma Perguruan Tinggi

Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat disebut Kukuh sebagai tugas suci yang melekat pada profesi dosen. Kompleksitas tugas inilah yang membuat profesi dosen menuntut kompetensi dan dedikasi tinggi.

Menggagas Dosen Masa Depan

Dalam pandangannya, dosen masa depan harus lebih dari sekadar pengajar. “Dosen harus etis, adaptif teknologi, komunikatif, dan mampu mendampingi generasi digital,” ujarnya.

Ucapan Selamat Hari Guru dan Dosen

Menutup pesannya, Kukuh menyampaikan apresiasi bagi seluruh pendidik di Indonesia.

“Terima kasih telah menjadi cahaya dalam kegelapan dan mencerdaskan bangsa. Semoga pahala ilmu jariyah terus mengalir hingga akhir hayat,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa dosen dan guru adalah dua sisi mata uang yang sama—pemandu perjalanan intelektual yang layak dihormati sepanjang masa.


Pilihan Untukmu