Jepara || jateng.bratapos.com - Jepara, kota pesisir di Jawa Tengah, ternyata memiliki peran besar dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Berdasarkan catatan Tome Pires dalam Suma Oriental, Jepara pada tahun 1470 masih merupakan pemukiman kecil dengan sekitar 90 hingga 100 penduduk. Dipimpin oleh seorang Muslim bernama Arya Timur, kota ini berkembang menjadi pelabuhan penting yang menjadi tempat singgah perahu dagang dari berbagai penjuru dunia. “Jepara dikelilingi benteng bambu dan menjadi pusat aktivitas dagang dan dakwah Islam,” tulis Tome Pires.
Tak hanya menjadi pusat perdagangan, Jepara juga tercatat sebagai salah satu daerah yang berpengaruh dalam penyebaran Islam di Jawa. Hal ini diperkuat oleh naskah Hikayat Hasanudin yang menyebut bahwa setelah wafatnya Sunan Ampel, beberapa anggota keluarganya pindah ke Jepara. Salah satunya adalah Nyai Gede Pancuran dan suaminya, Pangeran Ibrahim.
Ia dikenal sebagai sosok yang alim dan penuh welas asih. Pangeran Ibrahim merupakan ipar dari Raden Makdum Ibrahim atau yang kelak dikenal sebagai Sunan Bonang.
Sunan Bonang sempat tinggal di Jepara dan membuka pesantren di Karang Kemuning. Namun, pesantren itu kemudian terbakar habis bersama seluruh kitab-kitabnya. Banyak muridnya datang membantu, namun Sunan Bonang memilih untuk hijrah ke Bonang, Demak.
Di sana ia mengembangkan metode dakwah melalui kesenian, seperti gamelan, tembang macapat, dan pertunjukan wayang.
“Beliau sering memainkan bonang dan menciptakan tembang seperti Kidung Bonang,” tulis Hery Nugroho dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam (2013).
Salah satu karya sastra monumental Sunan Bonang adalah Suluk Wujil, yang kini disimpan di Universitas Leiden, Belanda. Teks ini menjadi warisan sastra Islam yang sangat berharga karena memuat nilai-nilai spiritual mendalam. Ia juga dikenal menciptakan tembang Tombo Ati yang masih populer hingga saat ini.
Setelah dari Demak, Sunan Bonang pindah ke Tuban dan wafat di sana. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman Kutorejo, Tuban, tak jauh dari Masjid Agung Tuban.
Sayangnya, kisah dakwah dan warisan budaya Islam di Jepara kini terlupakan oleh sebagian besar masyarakat dan pemerintah setempat. Padahal, menurut Serat Kandha edisi Brandes, Jepara adalah tempat pertama yang disinggahi Sunan Ampel ketika datang ke Jawa.
Kota tua ini seharusnya menjadi ruang penting untuk menghidupkan kembali literasi sejarah dan budaya Islam yang pernah berkembang pesat di wilayah pesisir utara Jawa.