Jepara || jateng.bratapos.com - Kabupaten Jepara, yang terletak di pesisir utara Jawa Tengah, dikenal tidak hanya karena keindahan pantainya dan warisan ukirannya, tetapi juga karena keunikan bahasa yang digunakan oleh masyarakatnya. Dialek khas yang disebut Jeporonan menjadi ciri khas yang membedakan Jepara dari daerah lain, dengan pengucapan dan ungkapan yang memiliki kekhasan tersendiri.
Bahasa adalah identitas suatu masyarakat, dan dialek Jeporonan mencerminkan budaya serta karakter masyarakat Jepara. Berikut adalah beberapa ciri khas dan ungkapan dalam dialek Jeporonan yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari:
1. Si, Tah
Penambahan kata “si” atau “tah” di akhir kalimat menjadi ciri khas dialek Jepara.
Contoh: “Ojo ngono si” atau “Ojo ngono tah” (Jangan begitu ya).
2. Cah Jepara
Orang Jepara sering menggunakan kata “Cah” untuk menyebut diri mereka sendiri, yang berarti bocah atau anak.
Contoh: “Aku Cah Jepara” (Saya orang Jepara).
3. Mbuweruh
Kata ini digunakan untuk menggambarkan jumlah yang sangat banyak.
Contoh: “Wah, sego ne mbuweruh!” (Wah, nasinya banyak sekali!).
4. Makno
Digunakan untuk menegaskan sesuatu yang sudah pasti.
Contoh: “Wis makno enak!” (Sudah pasti enak!).
5. Ijek
Berarti masih tersisa atau masih ada.
Contoh: “Ijek ana nasine?” (Masih ada nasinya?).
6. Kemplung
Digunakan ketika merasa ragu atau tidak percaya dengan sesuatu.
Contoh: “Walah… cah kemplung!” (Ah, bohong ini!).
7. Teko
Kata ini digunakan sebagai imbuhan, yang dalam dialek lain berarti datang.
Contoh: “Kerjo koyo ngono aku teko iso.” (Kerja seperti itu saya juga bisa).
8. Engkek, Maliter, Mlete, Gaya
Kata-kata ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang suka pamer atau bergaya mewah.
Contoh: “Ora usah mlete dadi wong, mending dadi wong biasa.” (Nggak usah sombong, lebih baik jadi orang biasa saja).
Selain penggunaan diksi khas, dialek Jeporonan juga memiliki perubahan bahasa yang unik, seperti:
• Penghapusan awal kalimat “Pecangaan” menjadi “Cangaan”.
• Substitusi kata “Enak” menjadi “Inuk”.
• Distorsi pembalikan “Jenenge” menjadi “Jengene”.
• Penambahan vokal untuk penekanan “Akeh” menjadi “Uakeh”.
Meskipun bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang digunakan, dialek Jeporonan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jepara. Bagi Cah Jepara di mana pun mereka berada, dialek ini merupakan bagian dari kekayaan budaya yang membuat Jepara semakin istimewa.