Tuban || jateng.bratapos.com - Raden Makdum Ibrahim, yang lebih dikenal sebagai Sunan Bonang, adalah salah satu ulama terkenal dalam Wali Songo yang berjasa besar dalam penyebaran Islam di Jawa pada abad ke-14. Selain sebagai ulama, Sunan Bonang juga dikenal sebagai seniman yang menggunakan seni, termasuk gamelan dan sastra, sebagai media dakwah.
Menurut cerita, Raden Makdum Ibrahim adalah penemu gamelan dengan tonjolan di bagian tengahnya, yang dikenal dengan sebutan bonang. Nama “Sunan Bonang” pun diambil dari nama alat musik ini. Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (2016) menyebutkan bahwa Raden Makdum Ibrahim adalah putra keempat dari Sunan Ampel, salah satu tokoh besar penyebar Islam di Jawa. Ia lahir di Surabaya pada 1465 M dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang agamis.
Sejak kecil, Raden Makdum Ibrahim menerima pendidikan agama Islam dari ayahnya, Sunan Ampel, yang juga pendiri Pesantren Ampeldenta. Selain belajar dari ayahnya, ia juga mendalami berbagai ilmu agama dan seni dari sejumlah ulama terkemuka. Kemampuan dan pengetahuannya mencakup berbagai bidang seperti fikih, tasawuf, sastra, arsitektur, dan seni bela diri.
Keterampilan bela diri ini terbukti berguna ketika ia mengalahkan seorang perampok bernama Raden Said, yang kemudian bertobat dan ikut menyebarkan dakwah Islam sebagai Sunan Kalijaga.
Dakwah Sunan Bonang dimulai di Kediri, Jawa Timur, di mana ia mendirikan musala di Desa Singkal, di tepi Sungai Brantas. Ia juga berhasil mengislamkan Adipati Kediri, Arya Wiranatapada, beserta putrinya. Setelah itu, Sunan Bonang melanjutkan dakwahnya ke Demak, Jawa Tengah, di mana ia diundang oleh Raden Patah untuk menjadi imam Masjid Demak.
Terkait dengan asal usul nama Sunan Bonang, ada dua versi yang berkembang. Salah satunya berhubungan dengan gamelan bonang yang ditemukan oleh Raden Makdum Ibrahim. Namun, ada juga versi yang menyebutkan bahwa nama tersebut diberikan karena ia tinggal di Desa Bonang selama bertugas sebagai imam Masjid Demak.
Seperti halnya Wali Songo lainnya, Sunan Bonang menyebarkan ajaran Islam melalui seni dan budaya. Ia menggunakan gamelan untuk menarik minat rakyat. Konon, Sunan Bonang sering memainkan gamelan bonang, yang memiliki suara merdu dan menarik perhatian masyarakat.
Melalui alunan musik yang dimainkan, ia berhasil menggubah tembang-tembang macapat, seperti Kidung Bonang, yang akhirnya mengundang banyak orang untuk memeluk Islam tanpa paksaan.
Sunan Bonang, dengan pendekatannya yang penuh kreativitas dan kebijaksanaan, berhasil menjadikan seni sebagai sarana yang efektif dalam menyebarkan syiar Islam di tanah Jawa.