Kudus || Jateng.Bratapos.com – Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, menjadi satu-satunya desa di Kabupaten Kudus yang memiliki dan mengelola pasar secara mandiri. Pasar bernama “Tokiyo” ini bukan hanya menghadirkan pusat ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan desa dalam membangun sistem tata kelola yang transparan dan berkelanjutan.
Kepala Desa Jepang, H. Indarto, menceritakan awal mula pasar Tokiyo terbentuk. “Dulu tahun 2004 ada 146 PKL yang berjualan di sepanjang pertigaan jalan. Kemudian kami relokasi ke lokasi pasar sekarang. Alhamdulillah, makin hari makin ramai,” ujarnya, Rabu (25/6/2025).
Pembangunan pasar dimulai tahun 2021 setelah desa mendapat dukungan dari Bupati dan Ketua DPRD Kudus serta bantuan keuangan dua tahun berturut-turut senilai Rp2 miliar. Hingga kini, total dana yang dikucurkan mencapai Rp3,7 miliar. “Target pendapatan dari pasar ini bisa sampai Rp600 juta per tahun,” imbuh Indarto.
Pasar Tokiyo memiliki luas 6.000 meter persegi dengan 41 kios dan ratusan los yang ditempati sekitar 325 pedagang. Lokasinya berada di Jl. Budi Utomo No. 27, Jepang, Mejobo. Selain menjadi penggerak ekonomi desa, pasar ini juga mencerminkan semangat antikorupsi yang diusung oleh pemerintah desa.
Pada 2023, Desa Jepang terpilih sebagai rintisan Desa Antikorupsi di Jawa Tengah. “Program ini bukan soal menang atau tidak, tapi soal konsistensi membangun sistem yang akuntabel dan partisipatif,” tegas Indarto. Ia berharap, semangat pemberantasan korupsi dari tingkat desa bisa menjadi inspirasi bagi wilayah lain.