Yogyakarta || Jateng.Bratapos.com - Tradisi budaya Ngarak Siwur kembali digelar meriah di Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Kamis (26/6), sebagai bagian dari rangkaian upacara adat Nguras Enceh. Kegiatan ini diikuti oleh abdi dalem Keraton Yogyakarta dan Surakarta, pasukan bregada dari delapan kalurahan, serta masyarakat sekitar yang turut menyemarakkan kirab.
Rombongan kirab bergerak mulai pukul 13.00 WIB dari halaman Kantor Kapanewon Imogiri menuju Terminal Pajimatan. Dalam iring-iringan ini, dua siwur pusaka atau gayung keramat dibawa dengan penuh khidmat. Kedua siwur berasal dari kompleks Makam Raja-raja Mataram Islam, masing-masing dari wilayah Yogyakarta dan Surakarta. Nantinya, pusaka tersebut akan digunakan dalam prosesi Nguras Enceh, yakni upacara penyucian dan pengisian air suci pada gentong-gentong di sekitar Makam Sultan Agung.
Ketua Panitia Kirab, Sudaryanto, mengatakan bahwa kirab ini merupakan langkah awal menuju puncak prosesi Nguras Enceh yang dijadwalkan pada Jumat (27/6). “Kirab budaya ini melibatkan tokoh-tokoh masyarakat serta bregada rakyat dari delapan desa di Imogiri. Siwur dari para juru kunci makam akan diserahkan kepada pengageng Keraton, lalu disemayamkan pada malam hari sebelum digunakan dalam prosesi utama,” jelasnya.
Tradisi Ngarak Siwur tak hanya menjadi tontonan budaya, namun juga merefleksikan nilai-nilai sejarah, spiritualitas, dan rasa kebersamaan masyarakat. Upacara ini berasal dari era Kesultanan Mataram, di mana gentong enceh dipercaya sebagai hadiah dari kerajaan-kerajaan sahabat seperti Kesultanan Aceh, Palembang, Turki Utsmani, dan Siam, sehingga memiliki nilai historis yang tinggi.
Keistimewaan kirab tahun ini terletak pada momen pelaksanaannya yang bersamaan dengan malam Jumat Kliwon serta Tahun Baru Hijriah dalam kalender Jawa. Masyarakat percaya, perpaduan waktu tersebut memberi kekuatan spiritual yang lebih dalam menjalankan tradisi sakral ini.