Kudus||Jateng.Bratapos.com-Kirab Ampyang Maulid yang diselenggarakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dan telah menjadi bagian penting dari tradisi kearifan lokal yang berlangsung sejak era 1990-an.
Gelaran kirab ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, Mutrikah, anggota komisi XI DPR RI H. Musthofa, Camat Jati, Fiza Akbar, dan sejumlah tamu kehormatan.
Kirab Ampyang Maulid dimulai dari Lapangan Kongsi Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus dan berakhir di halaman Masjid Jami At Taqwa Desa Loram Kulon pada Senin, 16 September 2024 siang.
Acara ini terkenal dengan tradisi uniknya, yaitu perebutan nasi kepel yang dibungkus daun jati dan kerupuk warna-warni yang disebut ampyang.
Nasi kepel, yang disiapkan oleh warga, dilengkapi dengan lauk seperti botok tahu campur daging kerbau, ayam, atau bandeng.
Setiap keluarga di desa ini menyiapkan lima hingga tujuh bungkus nasi kepel, yang kemudian dikumpulkan untuk membentuk gunungan besar.
Breaking News
Diknas Kabupaten Blora Sepertinya Melindungi Pelaku Pungli Di SMPN1 Doplang. Commander Wish Kapolda Jateng, Polresta Pati Salurkan 12 Tangki Air Bersih Untuk Warga yang Terdampak Kekeringan Oknum Perangkat Desa Nyidam Petai, Aksi Berbahayanya pun Menjadi Bulan bulanan Warga Hartopo-Mawahib Ajak Masyarakat Ikut Jaga Kamtibmas Jelang Pilkada 2024 di FGD Polres Kudus Eni Kusrini Terus Bergerak Bentuk Tim Pemenangan Korte, Sampaikan Visi-Misi Hartopo-Mawahib
Jurnal Sidak Nusantara
Home
Indeks
Human Interest
Hukum dan Kriminal
POLRI
Desa
Politik
Sports
TNI
Lainya
Science
Health
Beranda Human Interest
Human Interest
Disbudpar Kudus: Kirab Ampyang Loram Kulon Bertujuan Mengangkat Potensi dan Kearifan Lokal
Redaksi 2 - Disbudpar Kudus: Kirab Ampyang Loram Kulon Bertujuan Mengangkat Potensi Dan Kearifan Lokal
17 September 2024
KUDUS – jursidnusantara.com Kirab Ampyang Maulid yang diselenggarakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dan telah menjadi bagian penting dari tradisi kearifan lokal yang berlangsung sejak era 1990-an.
Gelaran kirab ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, Mutrikah, anggota komisi XI DPR RI H. Musthofa, Camat Jati, Fiza Akbar, dan sejumlah tamu kehormatan.
Kirab Ampyang Maulid dimulai dari Lapangan Kongsi Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus dan berakhir di halaman Masjid Jami At Taqwa Desa Loram Kulon pada Senin, 16 September 2024 siang.
Acara ini terkenal dengan tradisi uniknya, yaitu perebutan nasi kepel yang dibungkus daun jati dan kerupuk warna-warni yang disebut ampyang.
Nasi kepel, yang disiapkan oleh warga, dilengkapi dengan lauk seperti botok tahu campur daging kerbau, ayam, atau bandeng.
Setiap keluarga di desa ini menyiapkan lima hingga tujuh bungkus nasi kepel, yang kemudian dikumpulkan untuk membentuk gunungan besar.
Read MPK dan LBH BIMA SAKTI Salurkan Bantuan Sosial ke Masjid Al Khidmah Mertokusuman
Setelah do’a bersama di halaman masjid, nasi kepel ini diperebutkan oleh warga. Tradisi ini bertujuan untuk memperoleh berkah dari Allah SWT dan sebagai bentuk selamatan.
Ketua Panitia Kirab Ampyang Maulid, Abdul Rouf menjelaskan, tradisi ini dimulai sebagai bentuk selamatan dari zaman dakwah Sultan Hadlirin dan telah dilestarikan sebagai bentuk penghormatan dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Pada tahun ini, total nasi kepel yang diperebutkan mencapai sekitar 10.000 bungkus. Dengan melibatkan 38 kontingen, terdiri dari lembaga pendidikan, mushala, masjid, dan UMKM,” katanya.
Setiap kontingen membawa gunungan nasi kepel, ampyang, atau hasil bumi seperti sayuran dan buah-buahan. Tradisi ini semakin meriah dengan partisipasi warga dari Desa Loram Wetan yang turut memeriahkan acara.
“Dahulu memang ampyang yang dimaksud adalah kerupuk warna-warni. Sekarang secara lebih sederhana, ampyang ya berarti gunungan berisikan nasi kepel lengkap dengan lauk dan kerupuk sebagai selamatan untuk masyarakat,” tutur dia.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Mutrikah, menyatakan bahwa sejak 2010, festival ini telah dikemas lebih meriah untuk mengangkat potensi lokal Desa Loram Kulon, yang dikenal dengan kerajinan dan kuliner khasnya.
Kirab Ampyang Maulid bertujuan untuk mengangkat potensi dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Desa Loram Kulon yang pernah dijuluki sebagai Jepangnya Jawa Tengah. Di dalamnya mengandung beragam potensi desa wisata dalam bentuk kerajinan seperti kerajinan tas, bordir, hingga potensi kuliner dalam bentuk olahan bandeng.
Di mana masyarakat Loram Kulon memiliki jiwa entrepreneur yang cukup tinggi dan layak untuk dikenalkan dan dipromosikan kepada masyarakat luas. Satu di antaranya melalui festival budaya.
Kirab Ampyang Maulid yang diselenggarakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dan telah menjadi bagian penting dari tradisi kearifan lokal yang berlangsung sejak era 1990-an.
Gelaran kirab ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, Mutrikah, anggota komisi XI DPR RI H. Musthofa, Camat Jati, Fiza Akbar, dan sejumlah tamu kehormatan.
Kirab Ampyang Maulid dimulai dari Lapangan Kongsi Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus dan berakhir di halaman Masjid Jami At Taqwa Desa Loram Kulon pada Senin, 16 September 2024 siang.
Acara ini terkenal dengan tradisi uniknya, yaitu perebutan nasi kepel yang dibungkus daun jati dan kerupuk warna-warni yang disebut ampyang.
Nasi kepel, yang disiapkan oleh warga, dilengkapi dengan lauk seperti botok tahu campur daging kerbau, ayam, atau bandeng.
Setiap keluarga di desa ini menyiapkan lima hingga tujuh bungkus nasi kepel, yang kemudian dikumpulkan untuk membentuk gunungan besar.
Read MPK dan LBH BIMA SAKTI Salurkan Bantuan Sosial ke Masjid Al Khidmah Mertokusuman
Setelah do’a bersama di halaman masjid, nasi kepel ini diperebutkan oleh warga. Tradisi ini bertujuan untuk memperoleh berkah dari Allah SWT dan sebagai bentuk selamatan.
Ketua Panitia Kirab Ampyang Maulid, Abdul Rouf menjelaskan, tradisi ini dimulai sebagai bentuk selamatan dari zaman dakwah Sultan Hadlirin dan telah dilestarikan sebagai bentuk penghormatan dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Pada tahun ini, total nasi kepel yang diperebutkan mencapai sekitar 10.000 bungkus. Dengan melibatkan 38 kontingen, terdiri dari lembaga pendidikan, mushala, masjid, dan UMKM,” katanya.
Setiap kontingen membawa gunungan nasi kepel, ampyang, atau hasil bumi seperti sayuran dan buah-buahan. Tradisi ini semakin meriah dengan partisipasi warga dari Desa Loram Wetan yang turut memeriahkan acara.
“Dahulu memang ampyang yang dimaksud adalah kerupuk warna-warni. Sekarang secara lebih sederhana, ampyang ya berarti gunungan berisikan nasi kepel lengkap dengan lauk dan kerupuk sebagai selamatan untuk masyarakat,” tutur dia.
Read Grand Opening TBS Mart Bersama KH Anwar Zahid: Hidup Harus Bernilai Positif Dan Bermakna
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Mutrikah, menyatakan bahwa sejak 2010, festival ini telah dikemas lebih meriah untuk mengangkat potensi lokal Desa Loram Kulon, yang dikenal dengan kerajinan dan kuliner khasnya.
Kirab Ampyang Maulid bertujuan untuk mengangkat potensi dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Desa Loram Kulon yang pernah dijuluki sebagai Jepangnya Jawa Tengah. Di dalamnya mengandung beragam potensi desa wisata dalam bentuk kerajinan seperti kerajinan tas, bordir, hingga potensi kuliner dalam bentuk olahan bandeng.
Di mana masyarakat Loram Kulon memiliki jiwa entrepreneur yang cukup tinggi dan layak untuk dikenalkan dan dipromosikan kepada masyarakat luas. Satu di antaranya melalui festival budaya.
Read Stop Bullying, Kapolresta Pati dan Jajaran Edukasi di Sekolah
“Kearifan lokal dan budaya di Desa Wisata Loram Kulon luar biasa. Nah sejak 2010 lalu, kami kemas kegiatan perayaan maulid Nabi Muhammad di Masjid Wali At Taqwa dalam bentuk kirab budaya. Supaya potensi lokal Desa Loram Kulon terangkat,” terangnya.
Pihaknya menyayangkan jika beragam potensi lokal di Desa Loram Kulon tidak bisa dikembangkan dan dipromosikan kepada masyarakat luas.
Disbudpar menggandeng dinas terkait seperti Dinas Perdagangan, Dinas Pertanian dan Pangan untuk membantu mengembangkan dan memajukan potensi hasil kerajinan dan pertanian masyarakat Loram Kulon agar masuk ke pasar global.
Pihaknya bakal terus berkomitmen untuk mengembangkan desa-desa wisata di Kabupaten Kudus dengan ragam potensi lokal yang dimiliki. Termasuk Desa Loram Kulon dan beberapa desa wisata lainnya.
“Kami akan terus melibatkan diri untuk pengembangan dan kemajuan potensi-potensi lokal di Kabupaten Kudus,” pungkasnya.