Pranata Mangsa: Kearifan Lokal Penanggalan Pertanian Masyarakat Jawa Bentuk Kearifan Lokal Penanggalan Pertanian Masyarakat Jawa
Bratapos / Daerah

Pranata Mangsa: Kearifan Lokal Penanggalan Pertanian Masyarakat Jawa

Terbit : 09-Nov-2024, 20:25 WIB // Pewarta : Arifin, Editor : Arifin // Viewers : 325 Kali

Yogyakarta||jateng.bratapos.com - Pranata Mangsa adalah sebuah sistem penanggalan tradisional berbasis peredaran matahari yang telah digunakan oleh petani Jawa selama berabad-abad sebelum teknologi pertanian modern dikenal. Sistem ini membantu para petani menyesuaikan diri dengan perubahan musim melalui pengamatan langsung terhadap alam. Dalam Pranata Mangsa, setahun dibagi menjadi 12 musim atau mangsa, yang masing-masingnya memiliki karakteristik khusus terkait cuaca dan kondisi tanah, sehingga menentukan kapan waktu terbaik untuk bercocok tanam, memanen, atau mengolah tanah.

Pranata Mangsa tidak hanya mencerminkan pengetahuan pertanian, tetapi juga kearifan lokal yang tertuang dalam budaya dan sejarah masyarakat Jawa. Dalam Kitab Arjunawiwaha, misalnya, diceritakan kemajuan sektor pangan yang menjadi penopang kejayaan Kerajaan Majapahit, salah satu kerajaan besar di Nusantara. Pranata Mangsa, dengan aturan waktunya yang akurat, diyakini berperan penting dalam keberhasilan pertanian pada masa itu.

Secara harfiah, istilah "Pranata Mangsa" berasal dari kata "pranata" yang berarti aturan dan "mangsa" yang berarti masa atau musim. Kombinasi kedua kata ini menunjukkan aturan penanggalan yang dijadikan panduan dalam aktivitas pertanian. Kalender ini masih banyak digunakan, terutama di wilayah pedesaan Jawa, sebagai panduan menentukan waktu yang tepat dalam bercocok tanam dan panen.

Salah satu media tradisional untuk mencatat Pranata Mangsa adalah Papan Sangatan. Papan ini terbuat dari kayu dan diukir dalam bentuk tabel dengan simbol-simbol tertentu. Salah satu pemilik Papan Sangatan di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Wasinem, warga Dusun Lungguh, Dlinggo, Bantul. Menurut Wasinem, simbol-simbol pada papan tersebut membantu dalam menghitung wuku, yaitu satuan pekan dalam kalender Jawa yang terdiri dari tujuh hari.

Papan Sangatan memiliki dua sisi berukir yang menampilkan tabel-tabel simbolik. Tabel ini mempermudah ahli penghitung wuku untuk mengetahui waktu yang tepat dalam setiap tahapan bercocok tanam. Bentuk papan ini sekilas mirip dengan talenan, namun fungsinya lebih mendalam, sebagai alat bantu dalam memahami peredaran musim.

Melalui sistem Pranata Mangsa, masyarakat Jawa diajarkan untuk menghargai hubungan dengan alam, peka terhadap perubahan musim, dan bijak dalam menentukan waktu bercocok tanam. Sistem ini merupakan bagian dari kearifan lokal yang memperkaya budaya Jawa serta menunjukkan kekayaan pengetahuan pertanian yang lestari di Nusantara.


Pilihan Untukmu