Putra Mahkota Keraton Solo Kritik Kondisi Negara Foto : Putra Mahkota Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPAA Hamengkunegoro, mengungkapkan kritik tajam terhadap kondisi Indonesia melalui unggahan di Instagram story pribadinya, @kgpaa.hamengkunegoro.
Bratapos / Daerah

Putra Mahkota Keraton Solo Kritik Kondisi Negara

Terbit : 02-Mar-2025, 21:27 WIB // Pewarta : Kacab Jateng, Editor : Kacab Jateng // Viewers : 243 Kali

Surakarta || jateng.bratapos.com – Putra Mahkota Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPAA Hamengkunegoro, mengungkapkan kritik tajam terhadap kondisi Indonesia melalui unggahan di Instagram story pribadinya, @kgpaa.hamengkunegoro. Unggahan tersebut yang berisi kalimat “Nyesel gabung Republik” viral di media sosial dan memicu beragam reaksi dari publik. Kalimat tersebut mencerminkan kekecewaannya terhadap berbagai permasalahan yang tengah melanda negara.

Pengageng Sasana Wilapa Karaton Surakarta Hadiningrat, KPA H Dany Nur Adiningrat, menjelaskan bahwa unggahan tersebut merupakan respons atas sejumlah masalah besar di Indonesia, seperti kasus Pertamax oplosan, PHK massal di PT Sritex, korupsi timah, serta kebijakan pemerintah yang dianggap tidak tegas dalam menangani kasus pagar laut.

“Kritik ini adalah bentuk keprihatinan mendalam beliau terhadap bangsa. Banyak persoalan yang belum terselesaikan, seperti BBM oplosan dan PHK massal,” ungkap Dany pada Sabtu, 1 Maret 2025.

Selain masalah nasional, Dany menambahkan bahwa pernyataan tersebut juga dipengaruhi oleh status Daerah Istimewa Surakarta (DIS) yang belum terealisasi hingga saat ini, serta masalah hak-hak dan aset Keraton Surakarta yang belum diberikan oleh pemerintah.

“Janji pemerintah tentang DIS dan pengembalian aset Keraton yang belum dipenuhi, mungkin itulah yang melatarbelakangi kritik beliau,” jelas Dany.

Meskipun unggahan tersebut telah dihapus, jejak digitalnya terus menyebar di media sosial. Salah satu akun Twitter, @BebySoSweet, turut mengunggah ulang tangkapan layar dengan tagar #IndonesiaGelap.

Dany menegaskan bahwa kritik tersebut bukan provokasi, melainkan sebuah ekspresi satir yang memiliki tanggung jawab moral terhadap bangsa. “Ini adalah peringatan yang seharusnya disikapi dengan bijak oleh pemerintah,” tegasnya.

Kritik dari KGPAA Hamengkunegoro menjadi pengingat pentingnya suara dari berbagai elemen masyarakat dalam menjaga keseimbangan demokrasi dan mewujudkan keadilan sosial di Indonesia.


Pilihan Untukmu