Relawan Keluhkan Penanganan ODGJ di Jepara Foto : Ilustrasi ODGJ.
Bratapos / Daerah

Relawan Keluhkan Penanganan ODGJ di Jepara

Terbit : 30-Jun-2025, 00:03 WIB // Pewarta : Kacab Jateng, Editor : Kacab Jateng // Viewers : 109 Kali

Jepara || Jateng.Bratapos.com - Seorang ibu bersama anaknya mendatangi rumah seorang relawan kemanusiaan di Kelurahan Jobokuto, Kecamatan Jepara Kota, pada Sabtu malam (28/6/2025), dalam kondisi panik. Ia menunjukkan foto pria tak dikenal yang tiba-tiba masuk ke rumahnya dan enggan pergi. Pria tersebut diduga merupakan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

“Saya bingung harus minta tolong ke siapa. Di rumah hanya ada perempuan dan anak-anak kecil. Kami sekeluarga ketakutan,” keluh ibu tersebut dengan wajah pucat dan suara bergetar.

Sebelum menuju rumah relawan, ia sempat meminta pertolongan ke Kantor Pemadam Kebakaran, namun diarahkan ke relawan yang dikenal aktif menangani masalah sosial.

Saat melihat foto, relawan tersebut langsung mengenali sosok dalam gambar. “Itu Pak Mundhofar, warga RT 06 Ujungbatu. Dia sudah sering saya tangani. Mungkin sudah puluhan kali,” ungkapnya. 

Meski berniat membantu, relawan itu mengaku kecewa karena sang ibu sempat menawarkan uang rokok. "Saya bukan tersinggung soal uangnya, tapi rasanya saya diminta tolong bukan karena kemanusiaan,” ujarnya.

Relawan tersebut mengungkapkan, banyak kasus serupa terus terjadi dan melibatkan orang yang sama. Nama-nama seperti Mundhofar, Sanggup dari Batealit, hingga Mintiah dari Guyangan terus muncul dalam laporan warga. Ia menilai peran relawan tak bisa menggantikan kewajiban pemerintah.

“Kami ini relawan, bukan penampungan. Kalau terus begini, yang capek bukan cuma warga tapi juga kami,” tegasnya.

Ia mendesak agar Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan aparat desa/kelurahan segera mengambil tindakan. “Kami minta pemerintah jangan menutup mata. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga soal keselamatan warga. Jangan tunggu sampai ada yang celaka baru sibuk turun tangan,” ujarnya.

Penanganan ODGJ, katanya, harus dilakukan secara terkoordinasi, manusiawi, dan berkelanjutan agar mereka tidak menjadi korban maupun ancaman bagi masyarakat.

Ia berharap Jepara bisa menjadi kota yang peduli pada seluruh warganya, termasuk yang mengalami gangguan jiwa.


Pilihan Untukmu