Jateng || Bratapos.com – Sholat bukan sekadar kewajiban harian umat Islam, melainkan tiang utama penopang iman dan pembentuk karakter pribadi serta masyarakat. Dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, sholat dinilai memiliki peran strategis dalam membangun bangsa yang berakhlak dan berkeadilan.
“Sholat bukan hanya ritual, tetapi fondasi peradaban. Ia menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat, serta menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran,” ujar Rifqi Afdillah Ilham Al Askan, penulis sekaligus pemerhati keislaman.
Dalam Islam, sholat menempati posisi sentral. Ia adalah rukun Islam kedua setelah syahadat dan dijuluki sebagai tiang agama. Hadis riwayat Al-Baihaqi menyebutkan: “Sholat adalah tiang agama. Barang siapa mendirikannya, maka ia telah mendirikan agama. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah merobohkan agama.”
Menurut Rifqi, urgensi sholat bahkan menyentuh aspek sosial dan spiritual. “Sholat melatih kejujuran, membangun solidaritas saat berjamaah, dan menjadi tempat seorang hamba mencurahkan seluruh keluh kesahnya kepada Allah SWT,” katanya.
Dalam Al-Qur’an surah Al-Ankabut ayat 45, ditegaskan bahwa “Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” Ayat ini memperkuat keyakinan bahwa sholat yang dilakukan dengan benar mampu membentuk pribadi yang bersih dari keburukan moral.
Sholat juga dinilai sebagai solusi atas krisis spiritual dan moral yang melanda generasi saat ini. Rifqi menambahkan, “Jika sholat dijalankan secara khusyuk, bukan sekadar formalitas, maka akan lahir generasi yang jujur, berintegritas, dan sadar akhirat.”
Selain pahala spiritual, sholat juga membawa manfaat psikologis. Individu yang menjaga sholat cenderung lebih tenang, teratur, dan empatik dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, meninggalkan sholat disebut dapat menimbulkan kegelisahan batin dan melemahkan moral.
Rifqi menekankan pentingnya pendidikan sholat sejak dini. “Masjid dan keluarga harus menjadi pusat pembiasaan sholat, bukan hanya pengajaran teori. Dari sana karakter akan tumbuh,” ujarnya menutup.
(Rifqi Afdillah Ilham Al Askan)