Demak||jateng.bratapos.com - Desa Tugu, yang terletak di pesisir Sayung, Kabupaten Demak, meskipun rentan terhadap banjir rob, memiliki kekayaan biota laut yang menjadi daya tarik bagi para pemancing. Habitat ikan Mujair, Bandeng, Beranak, Kakap, dan Udang di perairan Desa Tugu turut mendukung berbagai produk olahan lokal seperti bandeng presto, peyek udang, hingga rumput laut untuk kosmetik.
Melihat potensi ini, Novia Sari Ristianti ST MT, Ketua Tim Pengabdian Masyarakat skema IDBU UNDIP 2024 dari Perencanaan Wilayah dan Kota UNDIP, memperkenalkan konsep Water-Based Tourism.
"Konsep ini memanfaatkan sumber daya air sebagai daya tarik utama, dengan tetap menjaga keseimbangan antara pariwisata dan pelestarian lingkungan," jelasnya.
Aktivitas wisata yang direncanakan meliputi cable ski, memancing, susur sungai pada pulau mangrove, wisata kuliner, serta wisata edukasi berbasis terapung. Selain itu, pengembangan melibatkan pengelolaan infrastruktur yang mendukung kelancaran kegiatan wisata dan edukasi lingkungan.
Kegiatan ini telah menghasilkan masterplan desa wisata air, mencakup manajemen pembangunan, rancangan anggaran, serta pembuatan buku dan video profil desa. Kepala Desa Tugu, Hartono SE, menyampaikan apresiasi atas upaya tim UNDIP ini. Dukungan juga datang dari KH Khasan Bisri, pengasuh Pondok Pesantren At-Tamri’iyyah.
Tim Pengabdian UNDIP berharap Desa Tugu dapat menjadi destinasi wisata yang berdaya saing, mandiri, dan tangguh menghadapi bencana. Tim ini terdiri dari para ahli lintas disiplin, termasuk Adnan Fauzi ST MKom, Dr-ing Santy Paulla Dewi ST MT, dan Ima Wijayanti SPi MSi PhD.
Konsep Water-Based Tourism di Desa Tugu diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan pelestarian lingkungan, menjadikannya destinasi wisata baru di Demak.