Nayacraft, Kerajinan Akar Bambu Mendunia dari Grobogan Foto : Kerajinan Akar Bambu: Elya Murtianto, warga Sendangrejo, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan.
Bratapos / Daerah

Nayacraft, Kerajinan Akar Bambu Mendunia dari Grobogan

Terbit : 27-Feb-2025, 09:05 WIB // Pewarta : Kacab Jateng, Editor : Kacab Jateng // Viewers : 414 Kali

Grobogan || jateng.bratapos.com - Elya Murtianto, seorang warga Sendangrejo, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan, berhasil menciptakan peluang bisnis yang luar biasa dengan mengubah limbah akar bambu menjadi kerajinan bernilai tinggi. 

Usaha yang ia dirikan pada tahun 2005 dengan nama Nayacraft ini terinspirasi dari nama anak sulungnya. Elya melihat banyaknya akar bambu yang tidak dimanfaatkan di sekitarnya dan memutuskan untuk menjadikannya bahan baku utama.

 Dari sinilah perjalanan Nayacraft dimulai, yang kini telah berkembang menjadi salah satu usaha kerajinan dengan pasar internasional, termasuk di Inggris dan Australia.

Saat pertama kali memulai usahanya, Elya tidak menyangka bahwa kerajinan dari akar bambu ini akan sukses besar. “Melihat bahan baku yang melimpah dan di daerah lain sudah ada yang memproduksi kerajinan seperti ini, saya akhirnya berspekulasi untuk ikut membuat kerajinan ini dan ternyata hasilnya lumayan bahkan lebih,” ungkap Elya saat diwawancarai.

Kerajinan Nayacraft kini banyak diminati di luar negeri, yang memungkinkan Elya untuk menjual produk dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan pasar domestik.

Pasar internasional telah menjadi faktor kunci dalam perkembangan Nayacraft. Elya menjelaskan, “Kerajinan akar bambu ini pangsa pasarnya luar negeri, sehingga kita bisa menjual harga tinggi.” Sejak tahun 2005, Nayacraft tidak pernah berhenti berproduksi, meskipun ada kalanya pasar sepi, namun permintaan selalu kembali ramai.

Elya berharap industri kerajinan akar bambu di Grobogan bisa berkembang lebih luas dan menjadikan daerah ini sebagai pusat kerajinan akar bambu.

 “Ayo sama-sama kita bikin sentra kerajinan akar bambu. Saya akan mendukung penjualannya dan memberikan pelatihan bagi siapa saja yang mau bergabung,” tambah Elya dengan semangat.

Dalam kapasitas produksi, Nayacraft mampu menghasilkan antara 2.500 hingga 3.000 produk kerajinan setiap bulannya, dengan omzet mencapai Rp 75 juta hingga Rp 100 juta. Namun, kendala terbesar yang dihadapi Elya adalah kekurangan tenaga kerja, karena mayoritas warga lebih memilih bekerja di sektor lain. Oleh karena itu, Elya sering merekrut tenaga kerja dari luar kota.

Meskipun demikian, Elya juga berkomitmen untuk membagikan keterampilannya kepada masyarakat setempat dengan menyediakan pelatihan pembuatan kerajinan akar bambu. “Kalau belajar tidak susah, satu minggu sudah bisa, paling lama dua minggu, belajarnya harus sampai selesai,” katanya.

Keberhasilan Nayacraft tidak hanya memberikan peluang bisnis, tetapi juga berkontribusi pada pemberdayaan masyarakat dan pemanfaatan sumber daya lokal.

 Elya Murtianto juga mendapatkan dukungan dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Grobogan atas upayanya mengolah limbah menjadi kerajinan bernilai tinggi.

Usaha Nayacraft telah membuka peluang besar bagi pengembangan industri kerajinan di Grobogan, sekaligus menunjukkan bagaimana kreativitas dan pemanfaatan bahan lokal dapat mendunia.


Pilihan Untukmu