Mbah Jemi, Lansia Sebatang Kara yang Berjuang Sendiri Foto : Mbah Jemi (81).
Bratapos / Daerah

Mbah Jemi, Lansia Sebatang Kara yang Berjuang Sendiri

Terbit : 15-May-2025, 09:34 WIB // Pewarta : Kacab Jateng, Editor : Kacab Jateng // Viewers : 216 Kali

Pati || jateng.bratapos.com – Mbah Jemi (81), warga Desa Sarimulyo, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, menjalani hidup dalam kesunyian dan serba keterbatasan. Di usia senja, ia harus bertahan seorang diri di rumah berdinding gedek dan beralaskan tanah, yang berdiri di atas lahan milik saudaranya. Sejak adiknya meninggal dan anak semata wayangnya tinggal menetap di Lampung tanpa pernah kembali, Mbah Jemi hidup tanpa keluarga yang mendampinginya.

Dulu, ia sempat tinggal bersama adiknya. Namun kini, kehidupan sehari-harinya hanya bergantung pada bantuan dari desa. Meskipun berbagai pihak menyarankan agar ia tinggal di panti sosial, Mbah Jemi menolak. “Saya lebih nyaman di rumah sendiri. Saya tidak suka keramaian atau tinggal bersama banyak orang,” ungkapnya pelan.

Perangkat Desa Sarimulyo menjelaskan bahwa Mbah Jemi pernah terdaftar sebagai penerima bantuan PKH pada 2021, namun hanya satu kali menerima pencairan bantuan meski telah memiliki KKS dan rekening bansos.

Saat ini, ia masih tercatat dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan mendapatkan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD). Selain itu, ia juga menjadi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) untuk layanan kesehatan.

Sebagai bentuk kepedulian, asesmen telah dilakukan oleh TKSK Winong bersama Dinas Sosial Kabupaten Pati, Sentra Margolaras Pati, serta perangkat Desa Sarimulyo. Bantuan langsung pun diberikan. PPSLU Turusgede Rembang menyalurkan bantuan sembako senilai Rp1.110.000 dari dana UPZ Dinsos Provinsi Jateng.

Sementara itu, Baznas Kabupaten Pati akan memberikan bantuan senilai Rp15 juta untuk perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Tak hanya itu, pemerintah desa telah membangunkan jamban yang layak, dan Sentra Margolaras juga berkomitmen untuk memberikan perabotan rumah seperti kasur, lemari, dan kursi tamu setelah renovasi rumah selesai.

Meski hidup dalam keterbatasan, keteguhan hati Mbah Jemi untuk bertahan di rumah sederhananya menunjukkan bahwa rasa nyaman dan ketenangan jiwa tak selalu bisa digantikan dengan fasilitas mewah.


Pilihan Untukmu