Tradisi Kupatan di Kudus Sarat Makna Budaya Foto : Masyarakat dukuh Jetak adakan kenduren kupatan di masjid besar darussalam kudus.
Bratapos / Daerah

Tradisi Kupatan di Kudus Sarat Makna Budaya

Terbit : 08-Apr-2025, 13:11 WIB // Pewarta : Kacab Jateng, Editor : Kacab Jateng // Viewers : 209 Kali

Kudus || jateng.bratapos.com - Masjid Besar Darussalam di Dukuh Jetak, Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, kembali menggelar kenduren Kupatan sebagai bagian dari tradisi Lebaran Ketupat. Kegiatan yang digelar Senin (7/4/2025) ini merupakan bentuk rasa syukur warga setelah menunaikan puasa sunnah enam hari pasca Idul Fitri. Kepala Dusun Kedungdowo, Ali Ahmadi menyebut, 

“Kami tetap menjaga budaya leluhur dengan mengadakan selamatan Kupatan sebagai wujud tasyakuran atas nikmat Allah SWT.”

Lebaran Ketupat atau Syawalan sudah menjadi budaya turun-temurun di masyarakat Jawa. Tradisi ini tidak sekadar menyajikan ketupat sebagai makanan khas, tetapi juga mengandung makna mendalam tentang pengakuan kesalahan dan pentingnya saling memaafkan.

“Kupat itu berasal dari kata ‘ngaku lepat’, yang artinya mengakui kesalahan. Momen ini jadi ajang saling memaafkan antarwarga,” ujar KH. Ali Ihsan, pembina Takmir Masjid Besar Darussalam.

Lebih lanjut, KH. Ali Ihsan menjelaskan filosofi ketupat yang sarat simbolik. Bungkus ketupat dari janur melambangkan tolak bala, sedangkan bentuk segi empat disebut mencerminkan arah kiblat. Ia juga menyebut empat makna dalam tradisi Kupatan: Luberan (berkah yang melimpah), Leburan (melebur dosa), Lebaran (pembukaan ampunan), dan Laburan (penyucian diri).

“Ketupat bukan sekadar makanan, tapi lambang pembersihan diri dan kembali ke hati nurani,” katanya.

Dalam acara kenduren ini, warga membawa ketupat dan lepet sebagai bentuk sedekah yang juga menjadi sarana mendidik anak-anak tentang pentingnya berbagi. Kenduren dimulai dengan doa bersama, pembacaan sholawat, hingga sambutan dari tokoh masyarakat.

“Tradisi ini penting dipertahankan sebagai pengingat nilai-nilai keikhlasan, silaturahmi, dan kebersamaan,” pungkas KH. Ali Ihsan yang juga anggota DPRD Kudus.


Pilihan Untukmu