Ketika Liburan Jadi “Ujian Dompet” di Pantai Karang Jahe Rembang Ketika Liburan Jadi “Ujian Dompet” di Pantai Karang Jahe Rembang / jateng (28-Mar-2026)
Bratapos / Opini

Ketika Liburan Jadi “Ujian Dompet” di Pantai Karang Jahe Rembang

Terbit : 28-Mar-2026, 18:06 WIB // Pewarta : jateng, Editor : jateng // Viewers : 96 Kali

Jateng,Bratapos.com

REMBANG_28/3/2026 Libur Idul Fitri biasanya identik dengan kebahagiaan: berkumpul bersama keluarga, melepas penat, dan menikmati suasana wisata. Namun bagi sebagian pengunjung di Pantai Karang Jahe, liburan kali ini terasa sedikit berbeda—bukan hanya soal ramai, tetapi juga soal biaya yang tiba-tiba terasa lebih “terasa”.

 

Tentu, tidak ada yang keliru dengan penyesuaian tarif. Semua orang paham, ketika pengunjung membludak, biaya operasional ikut meningkat. Sampah bertambah, petugas harus ditambah, pengaturan parkir makin kompleks. Logika itu masuk akal.

 

Yang kadang luput, justru cara menyampaikannya.

 

Pengunjung datang untuk berwisata, bukan untuk menebak-nebak tarif. Ketika angka di karcis tidak disertai penjelasan yang memadai, maka yang muncul bukan sekadar pertanyaan, tapi juga prasangka. Dan di era sekarang, prasangka bisa menyebar lebih cepat daripada klarifikasi.

 

Pengelolaan oleh BUMDes Abimantrana sejatinya membawa semangat kemandirian desa. Namun semangat itu akan jauh lebih kuat jika dibarengi dengan keterbukaan. Sebab publik hari ini tidak hanya ingin dilayani, tetapi juga ingin diperlakukan secara jelas dan adil.

 

Barangkali ini bukan soal mahal atau murah. Tapi soal rasa. Rasa ketika pengunjung merasa tidak mendapatkan informasi utuh. Rasa ketika biaya yang dikeluarkan tidak sepenuhnya dipahami. Dan rasa seperti ini, jika dibiarkan, bisa perlahan menggerus kepercayaan.

 

Padahal, menjaga kepercayaan jauh lebih sulit daripada menarik pengunjung.

 

Momentum libur Lebaran seharusnya menjadi kesempatan emas untuk menunjukkan kualitas pengelolaan wisata. Bukan hanya dari keindahan pantai, tetapi juga dari cara melayani. Sebab pada akhirnya, yang diingat pengunjung bukan hanya pemandangan, tetapi juga pengalaman.

 

Mungkin yang dibutuhkan bukan sekadar penyesuaian tarif, melainkan penyesuaian cara berkomunikasi. Papan informasi yang jelas, rincian biaya yang terbuka, dan penjelasan yang mudah dipahami—hal-hal sederhana, tapi berdampak besar.

 

Karena jika komunikasi berjalan baik, kenaikan tarif pun bisa dimengerti. Sebaliknya, tanpa keterbukaan, kebijakan yang wajar pun bisa terasa berat.

 

Ini bukan kritik untuk menjatuhkan. Ini pengingat bahwa wisata adalah wajah pelayanan. Dan wajah itu akan dinilai dari seberapa jujur dan terbukanya ia kepada publik.

 

Kalau liburan mulai terasa seperti “ujian dompet”, mungkin sudah saatnya ada yang perlu dievaluasi—bukan hanya tarifnya, tetapi juga caranya.


Pilihan Untukmu